Sabtu, 13 Februari 2016

Halo!


Haloooooo....
Kalian yang suka ngebaca blog ini yang isinya coretan amburadul saya. Terima kasih banyak yaaa... 
Kalian yang mau tanya sama saya juga boleh.
Email alay saya : Vina.maniest@gmail.com
Instagram : @vinadmynt
Sekian, maaf ya jika tulisan tulisan saya menyindir kalian, gak bermaksud ya. Semua tulisan itu saya tulis tulus dari hati *Ceilah* Maaf jika banyak kurang dan salahnya ya, juga thank you so much readers.

Kita?


Bait pertama. Kamu datang padaku. Memberiku kasih dan cinta dengan janjimu. Janjimu untuk selalu menyayangi dan mencintaiku selamanya. Kamu membuatku tertawa. Kamu membahagiakanku dengan kasih sayangmu. Seolah memberikanku cahaya dalam kegelepan. Kamu menerangiku.

Bait kedua. Kamu masih sama. Kamu yang hanya untukku. Kamu yang selalu menemaniku, yang selalu bersabar untukku. Kamu, yang selalu membuatku nyaman. Kamu yang mencintaiku apa adanya. Kamu yang tak mempermasalahkan fisikku yang jauh dari kata kurang, gendut. Kamu selalu bangga mencintaiku.

Bait ketiga. Kamu masih tetap saja sama. Tak ada yang berubah darimu. Kamu mencintaiku, begitu juga aku. Kamu selalu menerangi jalanku. Kamu yang dewasa. Kamu yang kucintai tetap saja sama. Kamu dengan posesivemu. Kamu yang selalu menjagaku.

Bait keempat. Kamu sedikit berbeda. Setelah datang dia. Kamu mendiamkanku. Kamu mengacuhkanku. Kamu tak menganggapku. Kamu pergi dengan dia disaat ada aku. Hingga aku harus pergi menjauh. Disaat aku menjauh, kamu barus tersadar kalau kamu membutuhkanku. Kamu memintaku kembali, kamu meminta satu kesempatan lagi. Bodohnya, aku memberimu kesempatan itu.

Bait kelima. Aku memberimu kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki 'kita'. Kamu memperjuangkan' kita'. Aku akui.  Kamu memperbaikinya, aku tahu. Kamu lebih peduli, aku tahu. Kamu lebih memperhatikanku. Kamu menyuruhku untuk percaya, dan aku percaya. Tapi, kepercayaan itu kamu abaikan. Kamu menyia-nyiakan kesempatan itu.

Bait keenam. Kamu berubah. Kamu dengan dia, orang yang sama. Kamu pergi tanpa kata perpisahan. Kamu jalan dengannya dibelakangku seolah aku tak tahu. Tapi, sayangnya aku mengetahuinya. Awalnya, aku mencoba percaya padamu. Tapi, percaya itu hilang seketika saat aku bertanya menyinggung hal itu. Kamu berbohong 2 kali dari 3 pertanyaanku. Beberapa hari setelah itu, aku kembali melihatmu dengannya. Beberapa kali, tak hanya aku yang melihatnya tapi kakak sepupuku juga.

Bait ketujuh. Kamu menganggapku seolah tak tahu api yang kamu sulut dibelakang ku. Tapi, aku mengetahuinya diam diam. Kau tahu, sepertinya aku bodoh karena mencintaimu. Aku memilih diam padamu seolah aku tak tahu apa apa. Karena aku ingin tahu sejauh mana kamu berbohong padaku. Hingga kapan kamu berbohong padaku. Juga kapan kamu akan jujur denganku.

Bait kedelapan.  Bahkan, kamu tak menyadari jika semua temanku dan temanmu mengetahui 'kamu dan dia'. Mereka menyuruhku untuk pergi darimu daripada aku sakit terlalu dalam. Mereka mendukungku untuk pergi darimu, mereka, temanku juga temanmu. Tapi, aku tetap diam menunggumu hingga kamu mau jujur denganku.

Bait kesembilan. Kamu masih saja bermuka dua. Padahal sering kali aku menyindirmu. Menyindir tentang 'kalian', kamu dan dia. Tapi kamu sama sekali tak sadar sedikitpun dan semakin menggila. Tak tahukah bagaimana perasaanku? Hal yang lebih buruk adalah disaat aku sudah memutuskan akan meninggalkanmu, aku terfikir keluargamu. Karena aku dan keluargamu sudah saling mengenal. Tapi apa boleh buat? Aku sepertinya memang harus mundur secara perlahan, menunggumu untuk mengakhirinya dahulu.

Bait kesepuluh. Kamu datang padaku setelah sekian lama aku menunggu. Kamu akhirnya meminta untuk 'break' dengan alasan fokus UN. Logikaku berkata ya, hatiku tidak. Namun mulutku berkata ya, dan sebaiknya berakhir saja dari pada break. Aku tak peduli ocehamu, dan permohonanmu. Semua begitu sakit untukku. Terserah kamu masih ingin break, tapi aku ingin berakhir. Semua berakhir. Berbahagialah, karena aku akan bahagia.

Hope you'll read it.
Vina, 07 Feb 2016


Kamu

Aku kembali dalam tangis
Di pojok ruang hati,
Terus tersedu dalam sendu
Sendu lara hati
Tak kuasa air mata ku dekap
Ku rangkul bersama bayangmu
Hanya bayang, bukan kenyataan
Semua berlalu begitu saja
Kau dengan dia,
Dibelakangku...
Kau tersenyum bahagia dengannya
Kau terus bersembunyi seakan ku tak tahu
Bagaimana sandiwaramu dengannya
Kau salah!
Aku tahu semua tentang mu dan dia
Semuanya aku tahu
Sejauh mana sandiwara kalian aku tahu
Tapi, aku diam
Aku diam untuk menunggumu mengakui semuanya
Semua yang kau lakukan dengan dia
Hingga...
Hatiku semakin tipis dan menipis untukmu
Semakin tipis hingga hilang dalam lara sunyi hatiku
Aku mencoba merelakanmu..
Walau ku tahu itu sakit
Kau perlu tahu,
Aku diam bukan karena aku lemah
Tapi aku percaya,
Tuhan akan membalas sandiwara mu dengannya
Juga, Tuhan akan memberikanku bahagia suatu saat nanti.

Catatanku,  06 Feb 2016
Math-vin

Senin, 11 Januari 2016

Melupakan

Lupakanlah, tetaplah tersenyum walau hatimu sakit.
Seperti 'bulan' dan 'matahari'. Mereka selalu mewarnai hari bersama tetapi mereka tidak dapat bersatu. Seperti 'sepatu', juga lagu yang dibawakan Tulus, selalu bersama tapi tak bisa bersatu. Saat dimana aku berjalan menuju kedewasaan, aku menemukan cinta pertamaku seperi 'bulan dan matahari' juga sepatu. Tapi lebih dari memecah hati, aku hanya sekedar bisa untuk melihatnya dari jauh bukan untuk bersama apalagi bersatu. Terlebih, aku hanya memiliki cinta sepihak. Kesedihan yang kukenal dan kulalui terlalu dini membuatku mengenal  dunia dengan kesakitanku.  Hingga seseorang yang sangat berharga bagiku, seseorang yang memberi kehangatan hatinya untukku pernah berkata,
"Semua ada jalannya, apapun jalan yang kamu lewati pasti berakhir bahagia karena 'dia' takdirmu bukan takdir orang lain." - 140914
Seseorang itu juga berkata,
"'Fake smile'-mu emang bagus dek, kamu bisa lakuin itu tanpa ada yang curiga. Tapi matamu enggak. Hatimu sakit. Inget aku ya dek, aku selalu nunggu izin kamu agar aku bisa ngehapus luka itu." - 140914
Seseorang itu telah menyatukan hatiku yang telah pecah berkeping keping. Memberikanku bahagia dan tawa , disisiku saat sendu. Dan aku akan mencintainya, karena aku mencintainya.


Vina
24-Desember-2015, Subuh

Sabtu, 09 Januari 2016

Aku Berhenti

Ketika luka tak dapat kuacuhkan
Dan disaat melodi sendu mengalun
Semua kembali dalam bayang
Bayang tangis yang kau abaikan
Namun, semua telah kulalui
Tanpa tahu arah aku tetap berjalan,
Berjalan untuk melewatinya
Sendirian, sunyi dalam kesenduan penuh harap
Sekarang aku telah dapat berdiri,
Berdiri dengan senyum, walau rasaku telah hilang
Setidaknya, aku bahagia pernah mencintaimu
Walau tak kau tahu dan tak kau sangka aku ada
Kini, aku berdiri tersenyum untuk orang yang tersenyum padaku
Jika kau tahu rasaku dulu telah hilang
Bagaimana rasa hatimu?
Secuil kataku untukmu, berbahagialah dengan apa yang kau pilih.
Jika ia menangis, peluk dan hapus tangisnya.
Jangan buat ia terluka dan jaga orangtua juga keluargamu...
Secarik surat untukmu, orang yang dulu mengisi rusukku, Opyungs.
Aku telah berhenti.

25 Mei 2015, Adik Kelasmu