Bait pertama. Kamu datang padaku. Memberiku kasih dan
cinta dengan janjimu. Janjimu untuk selalu menyayangi dan mencintaiku
selamanya. Kamu membuatku tertawa. Kamu membahagiakanku dengan kasih sayangmu. Seolah
memberikanku cahaya dalam kegelepan. Kamu menerangiku.
Bait kedua. Kamu masih sama. Kamu yang hanya untukku.
Kamu yang selalu menemaniku, yang selalu bersabar untukku. Kamu, yang selalu
membuatku nyaman. Kamu yang mencintaiku apa adanya. Kamu yang tak
mempermasalahkan fisikku yang jauh dari kata kurang, gendut. Kamu selalu bangga
mencintaiku.
Bait ketiga. Kamu masih tetap saja sama. Tak ada yang
berubah darimu. Kamu mencintaiku, begitu juga aku. Kamu selalu menerangi
jalanku. Kamu yang dewasa. Kamu yang kucintai tetap saja sama. Kamu dengan
posesivemu. Kamu yang selalu menjagaku.
Bait keempat. Kamu sedikit berbeda. Setelah datang dia.
Kamu mendiamkanku. Kamu mengacuhkanku. Kamu tak menganggapku. Kamu pergi dengan
dia disaat ada aku. Hingga aku harus pergi menjauh. Disaat aku menjauh, kamu
barus tersadar kalau kamu membutuhkanku. Kamu memintaku kembali, kamu meminta
satu kesempatan lagi. Bodohnya, aku memberimu kesempatan itu.
Bait kelima. Aku memberimu kesempatan. Kesempatan untuk
memperbaiki 'kita'. Kamu memperjuangkan' kita'. Aku akui. Kamu
memperbaikinya, aku tahu. Kamu lebih peduli, aku tahu. Kamu lebih
memperhatikanku. Kamu menyuruhku untuk percaya, dan aku percaya. Tapi,
kepercayaan itu kamu abaikan. Kamu menyia-nyiakan kesempatan itu.
Bait keenam. Kamu berubah. Kamu dengan dia, orang yang
sama. Kamu pergi tanpa kata perpisahan. Kamu jalan dengannya dibelakangku
seolah aku tak tahu. Tapi, sayangnya aku mengetahuinya. Awalnya, aku mencoba
percaya padamu. Tapi, percaya itu hilang seketika saat aku bertanya menyinggung
hal itu. Kamu berbohong 2 kali dari 3 pertanyaanku. Beberapa hari setelah itu,
aku kembali melihatmu dengannya. Beberapa kali, tak hanya aku yang melihatnya
tapi kakak sepupuku juga.
Bait ketujuh. Kamu menganggapku seolah tak tahu api yang
kamu sulut dibelakang ku. Tapi, aku mengetahuinya diam diam. Kau tahu,
sepertinya aku bodoh karena mencintaimu. Aku memilih diam padamu seolah aku tak
tahu apa apa. Karena aku ingin tahu sejauh mana kamu berbohong padaku. Hingga
kapan kamu berbohong padaku. Juga kapan kamu akan jujur denganku.
Bait kedelapan. Bahkan, kamu tak menyadari jika
semua temanku dan temanmu mengetahui 'kamu dan dia'. Mereka menyuruhku untuk
pergi darimu daripada aku sakit terlalu dalam. Mereka mendukungku untuk pergi
darimu, mereka, temanku juga temanmu. Tapi, aku tetap diam menunggumu hingga
kamu mau jujur denganku.
Bait kesembilan. Kamu masih saja bermuka dua. Padahal
sering kali aku menyindirmu. Menyindir tentang 'kalian', kamu dan dia. Tapi
kamu sama sekali tak sadar sedikitpun dan semakin menggila. Tak tahukah
bagaimana perasaanku? Hal yang lebih buruk adalah disaat aku sudah memutuskan
akan meninggalkanmu, aku terfikir keluargamu. Karena aku dan keluargamu sudah
saling mengenal. Tapi apa boleh buat? Aku sepertinya memang harus mundur secara
perlahan, menunggumu untuk mengakhirinya dahulu.
Bait kesepuluh. Kamu datang padaku setelah sekian lama
aku menunggu. Kamu akhirnya meminta untuk 'break' dengan alasan fokus UN.
Logikaku berkata ya, hatiku tidak. Namun mulutku berkata ya, dan sebaiknya
berakhir saja dari pada break. Aku tak peduli ocehamu, dan permohonanmu. Semua
begitu sakit untukku. Terserah kamu masih ingin break, tapi aku ingin berakhir.
Semua berakhir. Berbahagialah, karena aku akan bahagia.
Hope you'll read
it.
Vina, 07 Feb 2016