Sabtu, 13 Februari 2016

Kita?


Bait pertama. Kamu datang padaku. Memberiku kasih dan cinta dengan janjimu. Janjimu untuk selalu menyayangi dan mencintaiku selamanya. Kamu membuatku tertawa. Kamu membahagiakanku dengan kasih sayangmu. Seolah memberikanku cahaya dalam kegelepan. Kamu menerangiku.

Bait kedua. Kamu masih sama. Kamu yang hanya untukku. Kamu yang selalu menemaniku, yang selalu bersabar untukku. Kamu, yang selalu membuatku nyaman. Kamu yang mencintaiku apa adanya. Kamu yang tak mempermasalahkan fisikku yang jauh dari kata kurang, gendut. Kamu selalu bangga mencintaiku.

Bait ketiga. Kamu masih tetap saja sama. Tak ada yang berubah darimu. Kamu mencintaiku, begitu juga aku. Kamu selalu menerangi jalanku. Kamu yang dewasa. Kamu yang kucintai tetap saja sama. Kamu dengan posesivemu. Kamu yang selalu menjagaku.

Bait keempat. Kamu sedikit berbeda. Setelah datang dia. Kamu mendiamkanku. Kamu mengacuhkanku. Kamu tak menganggapku. Kamu pergi dengan dia disaat ada aku. Hingga aku harus pergi menjauh. Disaat aku menjauh, kamu barus tersadar kalau kamu membutuhkanku. Kamu memintaku kembali, kamu meminta satu kesempatan lagi. Bodohnya, aku memberimu kesempatan itu.

Bait kelima. Aku memberimu kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki 'kita'. Kamu memperjuangkan' kita'. Aku akui.  Kamu memperbaikinya, aku tahu. Kamu lebih peduli, aku tahu. Kamu lebih memperhatikanku. Kamu menyuruhku untuk percaya, dan aku percaya. Tapi, kepercayaan itu kamu abaikan. Kamu menyia-nyiakan kesempatan itu.

Bait keenam. Kamu berubah. Kamu dengan dia, orang yang sama. Kamu pergi tanpa kata perpisahan. Kamu jalan dengannya dibelakangku seolah aku tak tahu. Tapi, sayangnya aku mengetahuinya. Awalnya, aku mencoba percaya padamu. Tapi, percaya itu hilang seketika saat aku bertanya menyinggung hal itu. Kamu berbohong 2 kali dari 3 pertanyaanku. Beberapa hari setelah itu, aku kembali melihatmu dengannya. Beberapa kali, tak hanya aku yang melihatnya tapi kakak sepupuku juga.

Bait ketujuh. Kamu menganggapku seolah tak tahu api yang kamu sulut dibelakang ku. Tapi, aku mengetahuinya diam diam. Kau tahu, sepertinya aku bodoh karena mencintaimu. Aku memilih diam padamu seolah aku tak tahu apa apa. Karena aku ingin tahu sejauh mana kamu berbohong padaku. Hingga kapan kamu berbohong padaku. Juga kapan kamu akan jujur denganku.

Bait kedelapan.  Bahkan, kamu tak menyadari jika semua temanku dan temanmu mengetahui 'kamu dan dia'. Mereka menyuruhku untuk pergi darimu daripada aku sakit terlalu dalam. Mereka mendukungku untuk pergi darimu, mereka, temanku juga temanmu. Tapi, aku tetap diam menunggumu hingga kamu mau jujur denganku.

Bait kesembilan. Kamu masih saja bermuka dua. Padahal sering kali aku menyindirmu. Menyindir tentang 'kalian', kamu dan dia. Tapi kamu sama sekali tak sadar sedikitpun dan semakin menggila. Tak tahukah bagaimana perasaanku? Hal yang lebih buruk adalah disaat aku sudah memutuskan akan meninggalkanmu, aku terfikir keluargamu. Karena aku dan keluargamu sudah saling mengenal. Tapi apa boleh buat? Aku sepertinya memang harus mundur secara perlahan, menunggumu untuk mengakhirinya dahulu.

Bait kesepuluh. Kamu datang padaku setelah sekian lama aku menunggu. Kamu akhirnya meminta untuk 'break' dengan alasan fokus UN. Logikaku berkata ya, hatiku tidak. Namun mulutku berkata ya, dan sebaiknya berakhir saja dari pada break. Aku tak peduli ocehamu, dan permohonanmu. Semua begitu sakit untukku. Terserah kamu masih ingin break, tapi aku ingin berakhir. Semua berakhir. Berbahagialah, karena aku akan bahagia.

Hope you'll read it.
Vina, 07 Feb 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar